Mundurlah Simon!

by
Simon McMenemy/PSSI

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR—Timnas Indonesia sedang berada di titik nadir. Dalam empat laga Kualifikasi Piala Dunia 2020, Tim Garuda menelan empat kekalahan beruntun. Yang memalukan, tiga dari empat kekalahan itu diderita Indonesia di kandang sendiri.

Indonesia memulai kiprah dengan kalah 2-3 dari Malaysia di Gelora Bung Karno. Lalu, pada laga kedua Grup G Zona Asia, di stadion sama, Indonesia dihajar Thailand tiga gol tanpa balas. Setelah dibantai Uni Emirat Arab (UEA) di laga ketiga, Selasa, 15 Oktober malam, anak asuh Simon McMenemy lagi-lagi dipermalukan Vietnam dengan skor 1-3 di Gianyar, Bali.

Kalah empat kali beruntun dan kebobolan 14 gol serta hanya mencetak dua gol adalah catatan paling buruk Indonesia di kualifikasi Piala Dunia. Indonesia pada kualifikasi Piala Dunia 2010 memang juga tak pernah menang. Namun, kala itu, sistem kualifikasi masih berbeda. Saat itu, Indonesia kalah agregat 1-11 dari Suriah pada putaran kedua setelah menang WO atas Guam di babak pertama.

Secara umum, di bawah kendali pelatih Simon McMenemy yang mengambialih kursi kepelatihan pada 20 Desember 2018, performa Indonesia memang tampak sangat memprihatinkan. Selain kalah di empat laga kompetisi resmi, Indonesia juga sempat dibantai Jordania dengan skor 1-4 pada laga persahabatan.

Dari total tujuh laga yang dimainkan Indonesia di bawah arahan Simon, Indonesia hanya memenangi dua laga. Pertama, menang 6-0 atas Vanuatu di laga uji coba. Satu kemenangan lainnya diraih saat menang 2-0 atas Myanmar.

Catatan buruk itu jelas harus menjadi bahan evaluasi untuk posisi Simon. Selain karena di periodenya Indonesia, menorehkan rekor terburuk, pelatih asal Skotlandia itu cenderung tidak memberi efek berarti pada tim asuhannya.

Dalam empat laga kualifikasi, sangat jelas pemain terlihat tidak memiliki fighting spirit. Juga tidak tampak determinasi, karakter bermain, serta ciri khas permainan yang bisa menghadirkan harapan bahwa ada sesuatu yang menjanjikan dan ia layak diberi kesempatan.

Bahkan, jika melihat pemilihan pemain dalam kualifikasi Piala Dunia yang sudah dilakoni, ada kesan-kesan coba-coba dari Simon. Hampir setiap pertandingan ia melakukan rotasi signifikan. Itu paling nyata bisa dilihat dua dua pertandingan terakhir menghadapi UEA dan Vietnam.

Khusus kontra Vietnam, ia melakukan sembilan perubahan sekaligus. Keputusan itu bukan hanya sangat berisiko namun juga memperlihatkan bahwa Simon sama sekali tidak punya gambaran soal tim inti yang bisa ia andalkan di setiap pertandingan.

Ini tentu agak merisaukan. Pasalnya, ia ditunjuk sejak Desember tahun lalu. Harusnya, dengan kesempatan menangani tim kurang lebih 10 bulan, ia sudah punya gambaran jelas soal komposisi utama timnya dan rotasi pemain hanya dilakukan karena kepentingan taktik yang disesuaikan dengan lawan.

PSSI sebelumnya mengatakan belum bisa mengambil keputusan soal masa depan Simon karena mereka menunggu kualifikasi berakhir. Hal itu tentu sangat merisaukan mengingat tiga dari empat pertandingan berikutnya akan dilakoni Indonesia di kandang lawan. Bukan saja Piala Dunia, Piala Asia pun bisa saja hanya akan jadi angan-angan.

Selain itu, sudah jamak terjadi, timnas sebuah negara atau klub yang sedang dalam kondisi “kritis” melakukan perubahan di ruang ganti. Ini agar ada gairah baru dan pemain bisa lebih tertantang menunjukkan kinerja positif di lapangan.

Makanya, sikap kesatria Simon sangat diharapkan. Setelah gagal total dan membuat beberapa rekor buruk, termasuk takluk dari Malaysia di Jakarta yang sebelumnya hampir tidak pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, beberapa pihak berharap ia bisa legowo melepas jabatannya.

Simon sendiri pasca kekalahan dari Thailand menegaskan enggan menyerah dan mundur dari pekerjaannya. “Ya, tentu saja [masih layak melatih Indonesia]. Suporter selalu memiliki opini mereka sendiri, tapi tidak mewakili 250 juta masyarakat yang ada. Ini sepakbola, memang seperti ini, dan tidak mengejutkan,” tegas Simon saat itu dikutip dari situs resmi PSSI. (amr)

loading...


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *