Surat “Cinta” Suporter PSM untuk Prof

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR—Setelah penantian yang begitu panjang, PSM akhirnya bisa mengakhiri paceklik gelarnya dengan menjuarai Piala Indonesia 2018/2019. Sebagai bentuk suka cita, pawai dan berbagai macam ekspresi bahagia yang dimulai dari Stadion Andi Mattalatta dilakukan pencinta PSM berbarengan dengan postingan penuh kebanggaan di media sosial.

Ya, 19 tahun menunggu jelas bukan waktu yang singkat bagi kota penggila bola seperti Makassar dan para suporter fanatiknya. Jadi, wajar jika euforia itu begitu terasa mengepung Kota Makassar dan daerah lainnya di Sulsel yang juga tidak pernah menyembunyikan perasaan cinta mereka pada PSM.

Sebagai juara Piala Indonesia, PSM akan mewakili Indonesia di Piala AFC. Mencicipi pesta juara di kompetisi level Asia jelas juga menjadi mimpi PSM. Tidak berlebihan jika begitu besar harapan agar PSM tidak lagi harus “menumpang” di stadion lain di luar Makassar untuk laga-laga prestisius itu.

CEO PSM, Munafri Arifuddin sudah menegaskan harapannya kepada pemerintah provinsi agar ada progres untuk mengadakan stadion yang berstandar internasional. “Kami tak mau lagi main di luar kandang untuk AFC Cup,” ujarnya.

Terkait stadion layak yang memang sudah sepantasnya ada di Makassar, suporter tak ketinggalan mendesak pemerintah. Namun, berbeda dengan Munafri Arifuddin, mereka menyuarakan itu lewat sebuah Surat “Cinta” Suporter PSM untuk Prof.

Berikut surat terbuka yang ditujukan ke Gubernur Sulsel, Prof Nurdin Abdullah yang ditulis suporter bernama Ghufran Yusuf tersebut:

Bagaimana kabar, Prof? Semoga tetap bugar dan sehat. Pada leg kedua babak final Piala Indonesia, Prof harus beraktivitas sampai malam hari. Berdiri selama sejam di atas podium dan di tengah lapangan, jelas berat.

Prof ternyata peramal yang tepat. Tebakan 2-0 terbukti akurat. Hasil yang mengantar sebuah trofi Major di arak di Kota Makassar, Rabu kemarin. Setelah penantian panjang selama 19 tahun, momen itu terasa begitu luar biasa.

Seingat saya, ini adalah kali kedua Prof ke Stadion Mattoanging untuk menyaksikan Pasukan Ramang bertanding. Sebelumnya, Prof hadir menonton laga terakhir PSM di musim 2018, Desember lalu.

Oh iya Prof, juara Piala Indonesia akan mewakili Indonesia di Piala AFC. Berarti sesuai regulasi, PSM akan kembali tampil di level Asia. Sayang, ini bakal mubazzir Prof. Stadion Mattoanging yang (pernah) bertaraf internasional itu kemungkinan tidak lolos verifikasi. Terbukti, musim ini PSM harus main di Pakansari.

Itu sangat miris. PSM sebagai tim tertua di Indonesia harus jadi musafir. Padahal ini adalah even Internasional. Saya haqqul yakin Prof telah paham teori marketing luar dalam. Promosi tentang Makassar dan Sulawesi Selatan bisa tersalurkan jika PSM bisa main di kandang sendiri.

Itu soal dagang. Belum kita bicara soal animo masyarakat. Pasti Prof bisa merasakan sendiri atmosfer menonton langsung di Stadion. Suporter yang tidak berhenti berjoget, menyanyi dan “meneror” adalah doping bagi pemain. Jadi, kalau main di luar kandang saja kita bisa sampai Semifinal level Asean, apalagi di kandang sendiri.

Sepakbola terlanjur singgah di hati masyarakat yang Prof pimpin. Dan PSM hadir mewakili kecintaan tersebut. Sejak pertandingan berlangsung hingga kemarin siang, euforia masyarakat Kota Makassar dan sekitarnya merayakan prestasi ini benar-benar terasa. Di pinggir jalan mereka menyambut dan larut dalam suasana ini.

Sehabis pertandingan saya ikut konvoi suporter Prof. Di sepanjang jalan dan perempatan warga berbaur bersama untuk merayakan gelar juara ini. Bapak Polisi dan Satpol PP juga ikut berjoget bersama suporter. Saya berani bersaksi jika sangat banyak warga Prof yang merindukan PSM berprestasi.

Sampai kemarin siang pun, sejumlah rekan saya di Jalan Ahmad Yani, depan Balaikota rela berpanas-panas untuk mengabadikan momen ini. Ada yang selfie dan wefie. Melalui status WhatsApp, beberapa teman saya ikut konvoi menggunakan seragam kantor. Mereka berpesta atas nama kebanggaan dan cinta.

Tapi, jika bisa menebak, Prof juga sepertinya mulai jatuh cinta ke PSM. Beberapa waktu lalu, Prof datang bersama KPK dan Kejaksaan Tinggi Sulsel meninjau Stadion Mattoanging. Bagi saya seorang suporter, itu bisa membuat ge-er. Semoga saja Stadion itu kembali ke pemilik asal dan bisa dikelola dengan baik.

Hasil audit Stadion Barombong juga sudah keluar kan, Prof? Mudah-mudahan pembangunan bisa dilanjutkan. Kekurangan dananya memang tidak sedikit. Tapi, kapasitas Prof sebagai orang yang mampu menarik investor saya rasa membuat jumlah itu akan kelihatan kecil. Terlebih lagi jika tebakan saya soal jatuh cinta itu benar. Kala kasmaran, segalanya pasti akan terasa indah.

Jika terwujud, Makassar akan punya dua Stadion. Hal yang sudah selayaknya sejak dahulu kala. Ini Makassar, barometer Indonesia Timur. Sungguh ini juga akan dikenang seperti peninggalan Prof di Kabupaten sebelumnya.

Benar, tidak perlu suporter yang jadi Gubernur untuk memajukan sepakbola, cukup orang yang jatuh cinta. Seperti kata senior saya Prof, “cukup cinta saja, apa adanya…” (amr)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Amir