Ini Tujuh Langkah Mourinho yang Dilakukan di Setan Merah dan Tidak Dilakukan di Chelsea – FAJAR sport
Sportainment

Ini Tujuh Langkah Mourinho yang Dilakukan di Setan Merah dan Tidak Dilakukan di Chelsea

FAJAR SPORT, JAKARTA – Pelatih Manchester United Jose Mourinho dikenal dengan pelatih yang penuh dengan kontroversial, atas berbagai keputusan dan caranya menangani satu klub.

Pelatih berkebangsaan Portugal itu kini melatih MU setelah dipecat oleh pemilik Chelsea Abramovich dari klub. Mourinho dikenal oleh publik dunia setelah dia melatih Chelsea selama 16 tahun, dan dalam karirnya di The Blues, Mourinho mendapat dua kali pemecatan.

Baca Juga: Jelang Pertandingan, Prandelli Sebut Timnya Tak Bisa Hentikan Messi

Kini mantan pelatih Real Madrid itu telah menjadi pelatih dari rival mentan klubnya Chelsea. Ada yang menarik dalam putusan dan kebijkan Mourinho di Setan Merah, dimana ada tujuh kebijkan yang dia tidak lakukan saat melatih The Blues.

Ketujuh kebijakan itu yang dilakukan di MU dan tidak di Chelsea adalah:

1. Menghindari konfrontasi (sejauh ini)

Sejak bergabung dengan United, sampai sejauh ini, belum terdengar kontroversi ucapan atau komentar berujung ‘perang’ dengan manajer klub lain, kecuali komentarnya soal wasit yang memimpin laga Liverpool vs Manchester United pekan lalu yang berakhir imbang itu. Kini ia masih dalam tahap penyelidikan dari PSSI-nya Inggris.

Di internal klub sendiri, ia kini lebih ‘santun’ dengan para pemainnya, meski dianggap memberikan perlakuan yang tak semestinya kepada Bastian Schweinsteiger.

Namun, kala United mendapat hasil kurang memuaskan, ia tidak lagi langsung menyalahkan para pemainnya dan tetap memberikan dukungan kepada mereka yang dihantam gelombang kritik.

Lihatlah apa yang terjadi pada Luke Shaw, David de Gea, Paul Pogba hingga Wayne Rooney. Ia tetap memberikan dukungan, bukan?

2. Penggunaan seluruh pemain dalam skuad

DI Chelsea, Mourinho membuat aturan ‘untouchable palyer’ di starting IX-nya. Hal itu mengacu pada Didier Drogba, Frank Lampard dan John Terry. Di sisi lain, ia kerap mengabaikan pemain dan talenta muda yang dimiliki Chelsea kala itu.

Kini ia terlihat lebih akomodatif kepada 23 pemain yang dimilikinya di skuad Setan Merah. Contohnya, dengan mempercayakan Ashley Young di laga kontra Liverpool.

3. ‘The Pleasant One’

Setelah tiba di Chelsea pada 2004 Mourinho terkenal dengan kalimat: “Jangan anggap saya sombong, tapi saya memang juara Eropa dan saya pikir saya memang The Special One”.

Hal ini masih ditambah dengan celaan dan menganggap rendah pelatih klub lain yang jelas memicu ‘peperangan’ terbuka di media massa.

Kini, ia lebih kalem dan tak merendahkan atau meremehkan orang lain. Sebuah hal yang tak bisa ditemui kala ia membesut Chelsea kala itu. Pastinya….

4. Memberikan kesempatan pemain muda

Salah satu faktor utama yang dianggap sebagai kegagalannya di Chelsea adalah kurang memberikan kesempatan kepada pemain muda hasil binaan klub. Di Chelsea, ia menganut falsafah: Saya datang, say melihat, saya memenangkan gelar, saya meninggalkan. Itu saja.

Hitung sendiri berapa banyak pemain muda binaan Chelsea yang akhirnya memilih hengkang akibat kebijakan pragmatis Mourinho. Padahal, The Blues merupakan salah satu klub paling produktif memproduksi pemain-pemain muda bertalenta.

5. Bekerja dengan kekuatan dinamis ruang ganti

Usai membawa gelar juara Premier League sekembalinya ke Chelsea 2 musim lalu, Mourinho menjadi pelatih yang sangat mudah menunjukkan jari telunjukknya kepada para pemain yang dianggapnya ‘bersalah’.

Sontak, hal itu membuat perpecahan di dalam tim yang selanjutnya berujung pada anjloknya pasukan Abramovic dan berakhir dengan pemecatannya.

Hal itu tak dilakukannya di United. Ia sekarang memilih menggunakan pendekatan yang lebih ‘manusiawi’ kepada para pemainnya. Contohnya, bisa dilihat caranya menangani seorang Wayne Rooney.

6. Membangun harapan

Meski memiliki skuad termahal di dunia, Mourinho sepertinya hendak mengikuti jejak Sir Alex Ferguson yang meninggalkan banyak warisan bagi masa depan klub.
Meski ekspektasi yang dibebankan kepadanya cukup tinggi, namun ia menanggapi semua kritik yang ditujukan kepadanya itu dengan cukup kalem.

Seperti ketika United meraih beberapa kali hasil buruk, ia pun meminta dengan santun kepada para kritikus dan fans untuk lebih bersabar, karena ia sadar bahwa semua membutuhkan proses dan waktu.

7. Menyambut Juan Mata

Juan Mata yang sebelumnya berseragam Chelsea, ‘didepak’ Mourinho yang kala itu menjadi pimpinan di Stamford Bridge. Pemain Sapnyol itu kemudian berlabuh ke Old Trafford.

Setahun kemudian, Mourinho pun menyusulnya. Banyak yang meyakini, masa depan Mata di United bakal berakhir dengan kembali ‘didepak’ seperti nasib buruk yang diterimanya di Chelsea.

Tapi itu semua tak terbukti. Mourinho pun memberikan kesempatan kepada sang pemain untuk membuktikan dirinya dan hal itu dijawab dengan kepercayaannya yang tetap memasukkannya ke dalam bagian dari rencana skuad yang dimilikinya.

Dan, akhirnya Juan Mata tetap berseraham United hingga kini.
Kini, Mourinho seperti telah belajar dari kesalahan dan tak mau mengulangi kesalahan yang sama yang pernah ia buat di Chelsea. Tidak mau menjadi keledai. (Fajar/PJ)

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top